Kamis, 06 September 2012

Manfaat Madu Bagi Otak


Madu Memicu Kerja Otak

Renny Wahyuningsih - detikFood




Madu Memicu Kerja Otak
Foto : www.faqs.org
Jakarta - Setiap pagi mungkin Anda minum madu sebagai menu sarapan. Madu yang sudah terbukti khasiatnya sejak ratusan tahun silam. Bukan hanya sebagai pemasok energi saja tetapi juga punya sejumlah khasiat yang hebat lho!  

Madu bisa diminum kapan saja. Untuk pelengkap sarapan atau diminum sebelum tidur. Minum satu sendok makan madu asli sebelum tidur, akan meningkatkan fungsi kinerja otak. Sebab, fruktosanya mampu memberi energi cadangan pada hati dan bekerja pada otak semalaman. Tak heran, jika madu dipercaya sebagai penambah energi para atlet zaman Yunani kuno selama acara olimpiade. 

Madu memiliki kandungan karbohidrat 82,3% lebih tinggi di antara produk-produk hewani lainnya. Seperti, susu, telur, daging, keju, dan mentega. Setiap 100 gram madu murni mengandung 294 kalori. Sedangkan tiap 1000 gram atau 1 kg madu  kalorinya setara dengan 50 butir telur ayam atau 5,675 liter susu atau 1680 gram daging. 

Kandungan glukosa dan fruktosa pada madu mampu mensuplai glikogen pada hati. Juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Cairan manis alami ini memiliki efek antibakteri baik secara internal maupun eksternal sehingga dapat mempercepat pemulihan tubuh. Berfungsi juga antivirus alami untuk mengobati flu.

Hasil penelitian  Pennsylvania State College of Medicine, Amerika Serikat, menyebutkan khasiat satu sendok makan madu mampu menjadi obat flu yang disarankan. Sebelumnya, penelitian yang dilakukanShone Blait di Universitas Sydney, Australia, pada tahun 2007, menyebutkan  madu efektif memulihkan luka atau infeksi, dan juga mendukung bakteri baik pada usus dan menumpas sariawan. 

Tidak hanya kandungan gulanya yang tinggi (fruktosa 41%, glukosa 35%, sukrosa 1,9%), tapi juga memiliki komponen lain. Seperti, vitamin A, B1, B2, dan mineral (kalsium, natrium, kalium, zat besi dan magnesium). 

Madu juga memiliki antibiotik dan berbagai asam organik seperti asam malat, tartarat, sitrat, laklat, dan oksalat.Nah, untuk itu, kita disarankan agar mengonsumsi 2 sendok teh madu tiga kali setiap harinya guna menjaga kesehatan lambung.

(eka/Odi)

Kamu Adalah Apa Yang Kamu makan

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
“Kamu, adalah apa yang kamu makan”, istilah ini jika tidak salah diambil dari film semi dokumentari Amerika di tahun 1968 yang mencoba menangkap kehidupan essensial dari generasi hippie “flower power” di era tahun 1960 an. Istilah ini ternyata mempunyai spectrum pengertian yang luas. Karena selain sangat mengena, juga ternyata jika kita berbicara istilah tersebut bisa dari berbagai aspek. Seperti dari aspek kesehatan, keseharian, atau bahkan juga kepribadian.

Sewaktu saya masih kecil, oom Biba paman saya menyebutkan sebuah peribahasa dari Yunani yaitu “piringmu mencerminkan kepribadianmu”. Itu dikarenakan seringkali anak-anak meninggalkan sisa-sisa makanan di piringnya, dan menurut paman saya merujuk kepada arti peribahasa tersebut bahwa kepribadian seseorang bisa dilatih dari hal-hal kecil semisal tidak membiarkan piringnya semrawut dengan sisa-sisa makanannya.

Banyak hal yang dapat menghubungkan perihal makanan dengan kepribadian, semisal jangan membiasakan makan berlebihan karena akan menimbulkan sifat yang rakus. Seperti dinyatakan dalam Alquran;

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al A’raf, 7 : 31)

Dalam lain kesempatan pun Rasul menyampaikan agar hendaknya kita makan hanya untuk sekedar menegakkan punggung, atau dalam kata lain hanya agar mempunyai tenaga untuk bekerja. Tidak makan berlebihan atau kekenyangan yang membuat badan seringkali sakit dikarenakan pola makan yang berlebihan. Seperti dalam hadist;
“Tidaklah Bani Adam memenuhi kantong yang lebih buruk dari perutnya, hendaklah Bani Adam makan sekedar menegakkan punggungnya, jika tidak bisa (terpaksa), maka makanlah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiganya untuk nafasnya.” (HR. Imam Tirmidzi)

Kegemukan atau obesitas sering dikaitkan dengan pola makan secara berlebihan. Penelitian terbaru menunjukan bahwa terlalu banyak makan bisa meningkatkan risiko turunnya kemampuan otak, terlebih untuk orangtua. Para ahli berpendapat, orang yang usianya 70 tahun lebih dan setiap harinya asupan kalori yang masuk antara 2.100 sampai 6.000 kalori akan mengalami risiko penurunan fungsi memori dua kali lipatnya, hal ini merupakan pertanda awal dari penyakit Alzheimer atau kepikunan. Ilmuwan di bidang neurologi yang bernama Mark Mattson, Ph.D., seorang kepala laboratorium neuroscience di NIH’s National Institute on Aging. Dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa diet yang tepat seperti berpuasa, secara signifikan bisa melindungi otak dari penyakit de-generatif seperti Alzheimer atau Parkinson.

Jika kita lihat nasihat Luqman Al Hakim pada putranya; “wahai putraku jika kamu penuhi lambungmu akan tidur pikiranmu, membisukan hikmah, mendudukkan anggota badan dari beribadah dan pada perut kosong itu banyak faedahnya yaitu menjernihkan hati, mencerdaskan manusia dan menajamkan bashiroh. Kenyang itu menyebabkan kedunguan, membutakan hati dan memperbanyak uap dan cairan lambung.”

Cara mendapat makanan pun apakah dengan cara yang halal atau haram, mestilah diperhatikan dikarenakan Allah SWT menegaskan dalam Al Qur’an ;
“Hai Rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang soleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Mu’minuun. 23 : 51)

Rasulpun dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah meriwayatkan beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia mengadahkan kedua tangannya ke langit : “Ya Rabbi ! Ya Rabbi! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya” (HR. Muslim)

Dalam konteks makanan Allah pun berfirman: “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya”. betapa pentingnya manusia memperhatikan makanan sehingga Allah mengingatkan langsung kepada kita semua agar bersyukur, dikarenakan makanan ada dihadapan kita itu tidak dengan proses yang sederhana. Diperlukan penciptaan alam semesta yang saling berhubungan hanya sekedar untuk memakan semisal buah atau sayuran dihadapan kita. Selain itu darimana atau bagaimana kita mendapatkannya, lalu memisahkan yang halal dan yang haram, adab-adabnya, secukupnya dan lain sebagainya. Karena itulah ada benarnya istilah “you are what you eat” karena betapa pentingnya ihwal makan dan makanan tersebut.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran sekaligus hikmah dari bagaimana hendaknya kita memperhatikan makanan kita, agar darinya terbentuk pola makan yang baik, adab makan yang baik, dari upaya yang baik (halal) juga termasuk makanan yang baik (thoyib). Aamiin.

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Ustaz Erick Yusuf: pemrakarsa Training iHAQi (Integrated Human Quotient)
twitter @erickyusuf
erickyusuf@yahoo.com

Rezeki Yang Tertahan

Oleh: Abu Albi Bambang Wijonarso
Allah SWT menciptakan semua makhluk telah sempurna dengan pembagian rezekinya. Tidak ada satu pun yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk kita. Yang dibutuhkan adalah mau atau tidak kita mencarinya. Yang lebih tinggi lagi, benar atau tidak cara mendapatkannya.

Rezeki di sini tentu bukan sekadar uang. Ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya termasuk pula rezeki, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding uang dan lainnya.

Walau demikian, ada banyak orang yang dipusingkan oleh masalah pembagian rezeki ini. Dia merasa rezekinya sedang seret, padahal sudah berusaha maksimal mencarinya.

Ada banyak penyebab, mungkin cara mencarinya yang kurang profesional, kurang serius mengusahakannya, atau ada kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla menahan rezeki yang bersangkutan. Setidaknya ada lima hal yang menghalangi aliran rezeki.

Pertama, lepasnya ketawakalan dari hati. Kita menggantungkan diri kepada selain Allah. Kita berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal, Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS. Ath-Thalaq [63]: 3).

Kedua, karena dosa. Dosa adalah penghalang datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad).

Ketiga, bermaksiat saat mencari nafkah. Apakah pekerjaan kita dihalalkan agama? Kecurangan dalam mencari nafkah, entah itu korupsi, manipulasi, akan membuat rezeki kita tidak berkah.

Mungkin uang kita dapat, namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Apa ciri rezeki yang tidak berkah? Mudah menguap untuk hal sia-sia dan tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk taat kepada Allah serta membawa penyakit. Bila kita telanjur melakukannya, segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

Keempat, pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah. Banyak aktivitas kita yang membuat hubungan kita dengan Allah makin menjauh. Kita disibukkan oleh kerja, sehingga lupa shalat, lupa membaca Alquran, lupa mendidik keluarga, lupa menuntut ilmu agama, lupa menjalankan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan. Akibatnya, pekerjaan kita tidak berkah.

Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat kita semakin dekat pada Allah. Sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah kita abaikan. Saudaraku, bencana sesungguhnya bukanlah bencana alam yang menimpa orang lain. Bencana sesungguhnya adalah saat kita semakin jauh dari Allah.

Kelima, enggan bersedekah. Siapa pun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya mampet. Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan, serta pelipat ganda rezeki. Sedekah bagaikan sebutir benih menumbuhkan tujuh butir, yang pada tiap-tiap butir itu terurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. (QS al- Baqarah [2]: 261). Wallahu a’lam.



Redaktur: Chairul Akhmad